Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. "mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Qs. Al Baqarah (2): 30.
Ayat di atas penulis sodorkan sebagai bahan awal kita untuk mengkaji manusia secara utuh. dari ayat diatas jelas tersurat bahwa Allah akan menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Dari ayat tersebut ada dialektika proses penciptaan manusia dari para malaikat dengan Tuhan. pertanyaan selanjutnya adalah mengapa manusia yang terpilih untuk menjadi khalifah? apa potensi yang dimiliki manusia? Apa sebernarnya tugas khalifah? kenapa tidak makhluk yang lain? Kenapa harus dibumi? Dari mana malaikat referensinya malaikat sehingga mereka mengatakan bahwa manusia akan membuat kerusakan dimuka bumi ini?. Tulisan ini mencoba untuk menjawabnya.
Definisi Khalifah
Khalifah dan Khulafa (jamak) secara bahasa artinya wakil, pengganti, orang yang menggantikan orang yang sebelumnya. Al-Quran menyebut kata khalifah dalam surat al-Baqarah: 30 dan Shad: 26), Khulafa’ (3 kali: al-A’raf: 69, 74; an-Naml: 62), Khalāifa (4 kali: al-An-âam: 145; Yunus: 14, 73; Fathir: 39) dan masih banyak ayat lain yang menyatakan kata bentukannya. Semuanya dinyatakan dalam arti bahasa, yakni pengganti yang menggantikan umat atau pemimpin terdahulu; menggantikan malaikat untuk mengurus bumi atau mendapat amanah dari Allah untuk mengelola bumi. Menurut istilah yang lebih khusus lagi pada kekuasaan, berarti orang yang dipilih oleh jama'ah menjadi pemimpin mereka.
Khalifah menurut sejarah ialah; Kepala Pemerintahan Islam pada zaman sahabat, yaitu dengan bai'at sebagai pernyataan setia dari penduduknya dengan jalan pilihan. Sesudah masa sahabat, sebutan Khalifah dipergunakan untuk sebutan kepala Pemerintahan tetapi tidak melalui pilihan (kerajaan). Dulu, pada saat Abu Bakar As-Shiddiq menjadi pemimpin umat Islam, beliau disebut Khalifah (pengganti) dari Rasulullah. Lalu, ketika Umar ra menggantikan, beliau disebut khalifat khalifat Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah). Karena gelar ini terlalu panjang, akhirnya Umar ra. berinisiatif mengganti gelar itu dengan Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang mukmin).
Semua manusia yang diciptakan oleh Allah di muka bumi adalah Khalifah Allah; atau pengganti makhluk Tuhan untuk melaksanakan amanah Tuhan sebagai pengelola bumi ini. Allah memberikan amanah kepada semua manusia (Khulafa) untuk membangun bumi ini; bukan kepada Malaikat, Jin, Hewan, gunung, langit dan lain sebagainya; walaupun mereka juga ciptaan Allah. “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung”. (Qs. 33:72). Manusialah yang sanggup untuk memegang amanah itu karena potensi yang dimiliki oleh manusia.
Term Manusia dalam al-Qur'an
Dalam hal ini ada tiga kata kunci yang digunakan al-Qur'an untuk menunjuk manusia yaitu;
Pertama. Dengan huruf a-n-s, seperti dalam kata insān, ins dan unās. Kata insān berasal dari kata uns, yang berarti jinak, harmonis dan tumpah, ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata nasiya (lupa) atau nāsa-yanŭsu (guncang). Kata ini dengan derifasinya terulang sebanyak 65 kali yang dikelompokan kedalam tiga kategori, yaitu; (a) kata insān yang dihubungkan dengan kata khalifah (pemikul amanah). (b) kata insān dihubungkan dengan predisposisi negatif yang cenderung lalim, kufur, tergesa-gesa, bodoh, bakhil, banyak membantah, resah, gelisah dan enggan menolong, tidak berterima kasih. (c) kata insān dihubungkan dengan proses penciptaan manusia.
Kedua, menggunakan kata Basyar. Kata ini dalam al-Qur'an terulang sebanyak 27 kali yang menunjukan identitas biologis, kata ini juga dikontekskan dengan makan, minum, seks, berjalan di pasar dan lain-lain.
Ketiga, menggunakan istilah Al-nās. Kata ini menunjukan manusia sebagai makhluk sosial, bentuk ini disebut sebanyak 240 kali yang sering dipakai dalam ungkapan; wa min al-Nās, aktsaru al-Nās, dan yā ayyuha al-Nās yang menunjukan kepada kelompok sosial dengan berbagai stratifikasinya, keadaan kelompok inilah al-Qur'an diturunkan.
Karakteristik beberapa term diatas, al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan sosial, maka ketika ia berkedudukan sebagai basyar yang erat dengan unsur materi, ia hrus tunduk pada sunnatullah di alam ini. ketatan dan ketundukan manusia sama dengan ketundukan makhluk lain yang berpredikat masyyar, tetapi ketika berposisi sebagai insān atau al-nās yang berkaitan dengan nilai rabbany, maka Islam adiikat dengan aturan, yang diberi kebebasan untuk tunduk atau menolak, sehingga ia berpredikat muskhayyar yang dituntut tanggung jawab. Inilah yang selanjutnya menjadikan manusia khalifah.
Ragam Penafsiran Manusia Turun ke Bumi
Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul Ala, sebelum mereka diadakan. ''Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat''. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaum-mu'', ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi'', yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, ''Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi'' (Fathir: 39).
Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'' Kesalahan kita terkadang terjebak pada cerita proses turunnya Nabi Adam kebumi, mereka mengatakan ini semua kesalahan Nabi Adam telah memakan buah Khuldhi (buah larangan) yang menyebabkan keturunan Adam hidup di bumi. Padahal dijadikannya manusia penghuni bumi adalah untuk menjadikannya khalifah dengan amanah mengelola, memelihara dan mengembangkan bumi dengan segala kehidupannya.
Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya'', Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya. Jika kita menafsirkan lagi, malaikat mendapat referensi dari mana sehingga bertanya seperti itu? Malaikat melihat potensi yang dimiliki manusia yaitu, potensi hawa-nafsu, yang akan menyebab manusia lepas kontrol tidak lagi mengikuti perintah, disamping manusia punya potensi yang lain misalnya; akal, menyaksikan Tuhan, indera dan lain sebagainya. Petensi-potensi inilah yang harus kita kembangkan dan sekaligus kita waspadai seperti dialog ketakukan malaikat akan kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia.
Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya?''. Ibnu Jarir berkata, ''Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah diberitahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam.
Mereka berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?'' Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,'' yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan para wali.
Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian, perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: ''Abu Bakar merupakan khalifah Rasulullah'' yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata: ''Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,'' yaitu ketika Nabi SAW. pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang.
Bila konsep ini telah jelas dan melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
Pertama. Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total atau bagian. Dia senantiasa mengurus langit, bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil, pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta alam. Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk menggantikan Allah, maka dia harus memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta'ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna? Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. ''Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (Qs. asy-Syuura: 11)
Kedua adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut ini. ''Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung''(Ali Imran: 173). ''Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.''(Hud: 12). ''Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.''(At-Thalaq: 3). ''Dan cukuplah Allah sebagai Wakil''(An-Nisa': 81) Dalam hadits mengenai doa bepergian, Nabi SAW bersabda, ''Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan)'' Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-Qur'an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni, karena Dia berfirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi''. Ayat ini jangan dipahami bahwa Adam ‘alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia berfirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.'' Allah mengatakannya demikian, dan tidak mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan, untuk-Ku, seorang khalifah di bumi'', atau Dia mengatakan, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi'', atau ''menjadikan khalifah-Ku''. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin mengatakan, ''Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.''Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan ''menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.
Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur'an dan Sunnah. Adapun orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah, dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan menggantikan-Nya.
Menurut hemat penulis khalifah adalah wakil dari manusia sendiri dari generasi ke genras, khalifah juga berarti pemimpin, jadi setiap manusia adalah pemimpin, paling tidak dia mempunyai kebebasan untuk memimpin dirinya sendir. Pengertian khalifah juga tidak terlepas dari tujuan penciptaan, yaitu sebagai hamba yang beribadah kepada Allah, sebagai pengelola, pemelihara kehidupan di bumi dengan diberikannnya potensi untuk hal itu, yang tidak diberikan kepada makhluk lain selain manusia.
Potensi Terpilihnya manusia sebagai khalifah
Ada beberapa potensi yang menyebabkan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang ditunjuk sebagai khalifah. diantaranya adalah:
.
a) Tujuan penciptaannya. Turunnya manusia ke bumi bukan karena kesalahan Adam makan buah khuldi tetapi karena memang sekenario dari Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai penghuni di bumi “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Q.S Adz Dzariyaat. 51:56). Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al Baqarah (2): 30). Bumi adalah tempat manusia dengan segala fasilitas yang ada di dalamnya selanjutnya lebih khusus lagi tugas manusialah yang akan mengisi bumi dengan segala kreatifitasnya.
b) Amanah yang diberikan. Manusia dengan dijadikannya khalifah mempunyai konsekuensi yang besar, yaitu beribadah kepada Allah, dengan pola hubungan khablum mina Allah dan Khablum minan nas, manusia dengan Tuhan, Manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Dalam kehidupannnya di dunia, manusia punyai kewajiban mengelola dan memelihara alam ini dan segala isinya dengan potensi yang dimiliki manusia. Hanya manusialah yang sanggung mengemban tugas itu, karena perangkat yang telah diberikan kepada manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. “Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q. S. al-Ahzab (33):72). Apa yang diperbuat manusia akan dimintai pertanggung jawaban. (Qs. Al-Mu’minun:62)
c) Kesempurnaan bentuk (Raga/jasmani). Manusia telah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibanding dari makhluk-makhluk lain (Qs. At Tiin : 4-5)
d) Potensi ilmu. Ilmu yang menjadikan manusia lebih tinggi derajatnya dibanding makhluk lainnya. Akal ini memungkinkan manusia untuk belajar atau berilmu. Ilmu inilah sebagai syarat utama menjadi khalifah. “Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama benda-benda) semuanya, kemudian dia mempertunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), Sebutkanlah kepada-Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar (QS. Al-Baqarah :31). Potensi ilmu inilah yang menjadikan manusia istimewa dan pantas menyandang jabatan khalifah.
e) Hati/al- qalbu. Manusia mempunyai hati, sifat hati pada manusia tidaklah tetap, tetapi cenderung labil. Potensi hati inilah potensi keimanan manusia, adanya potensi untuk mensucikan dzat yang ‘maha’ daripada manusia. Hati inilah sebagai pusat sistem kontrol diemensi psiritual manusia. (Qs. Al-An’am:110). Potensi inilah yang tidak dimiliki makhluk lain selain manusia.
f) Nafsu. Potensi inilah yang terkadang menjebak manusia kepada kejahatan, tetapi jika manusia mampu mengendalikannya maka kehidupan manusia menjadi lebih bermakna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Keberadaan potensi nafsu inilah para malaikat bertanya” mangapa kau (Tuhanku) ingin menjadikan manusia yang akan membuat kerusakan di Bumi?, mailakat mempunyai referensi dari sini. Diantara nafsu-nafsu itu adalah; Nafsu Ammaarah Bissu’, Nafsu Lawwamah, dan Nafsu Muthmainnah.“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmad oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, maha penyayang. (Qs.Yusuf:53)
g) Jiwa/ruh. Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya kepada tubuh manusia ketika masih dalam kandungan. Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa tersebut, tentang keesaan Allah, pertanggung jawaban atas perbuatannya. Allah mengujinya dengan kebaikan dan keburukan. Manusia mempunyai jiwa, dan tiap-tiap yang berjiwa akan mati. (Qs. Ali-Imron:185-186)
Penutup
Manusa adalah khalifah, dimuka bumi, penciptaan telah direncanaan oleh Allah, keberadaannya di bumi adalah karena sekenario Allah, tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan yang dilakukan manusia (Adam). Manusia adalah makhluk yang sempurna secara bentuknya dibanding dengan makhluk lain, manusia juga adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya dari segi potensi yang diberikan Allah padanya, tetapi potensi itu juga ayang akanmenjadiakan manusia derajatnya lebih tenndah dibanding binatang sekalipun. Segala keistimewaan dan kekurangan itu telah melekat pada manusia dan karena itulah manusia menjadi khalifah. Khalifah di muka bumi dengan segala potensi yang telah diberikan, dengan segala amanah yang akan dijalankan dan dengan segala cobaan yang akan ditemui. Semoga kita bisa menjadi khalifah yang sesungguhnya. Amin. waallu a’lam bisshowab.
Makna Turunnya Manusia ke Bumi
Mukhlis F, Minggu, 26 April 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

Comments :
Poskan Komentar